SUARA NGAWI - Ada satu bagian kecil dari sejarah sastra Indonesia yang barangkali luput dari ingatan orang Ngawi. Salah satu penyair terbesar Indonesia pernah datang ke Paron untuk menemui perempuan yang dicintainya. Namanya Chairil Anwar. Perempuannya Sumirat, yang biasa dipanggil Mirat.
Chairil dikenal sebagai penyair yang hidupnya pendek tetapi meninggalkan pengaruh panjang. Ia lahir di Medan pada tahun 1922 dan meninggal di Jakarta pada tahun 1949, dalam usia 26 tahun. Namanya melekat pada puisi-puisi seperti “Aku”, “Diponegoro”, “Karawang-Bekasi”, dan “Derai-derai Cemara”. Tetapi sebelum menjadi sosok yang ditempatkan di halaman-halaman buku pelajaran, Chairil adalah seorang pemuda yang mencari jalan hidupnya sendiri.
Menurut sumber Badan Bahasa, sebelum menikah dengan Hapsah, Chairil pernah jatuh cinta kepada Sumirat, seorang perempuan Jawa asal Paron, Ngawi. Keduanya bertemu di Jakarta sekitar tahun 1943 dan kemudian menjalin hubungan. Sumirat bukan perempuan yang sama sekali asing dengan dunia kesenian. Ia disebut dekat dengan lingkungan seni rupa dan memiliki ketertarikan pada kesenian. Lingkungan itulah yang mempertemukannya dengan Chairil.
Hubungan keduanya tampaknya cukup serius. Chairil bahkan datang ke Paron untuk menemui keluarga Sumirat. Di sinilah kisah cinta itu berhadapan dengan sesuatu yang sangat biasa dalam kehidupan manusia, yakni pertanyaan tentang masa depan. Chairil belum mempunyai pekerjaan tetap. Ia hidup dari dunia yang bagi kebanyakan orang tua pada masa itu sulit dianggap sebagai pekerjaan: membaca, menulis, bergaul dengan seniman, dan mengejar kesusastraan.
Orang tua Sumirat tentu mempunyai alasan untuk khawatir. Seorang pemuda yang hendak menjadi menantu idealnya mempunyai pekerjaan dan penghasilan yang jelas. Chairil tidak memenuhi ukuran tersebut. Hubungan mereka akhirnya tidak sampai ke pelaminan. Ironisnya, lelaki yang dianggap belum mempunyai pekerjaan yang menjanjikan itu kelak menjadi salah satu nama paling penting dalam sejarah kesusastraan Indonesia.
Kisah Chairil di Paron menjadi lebih menarik karena ternyata tidak hanya bersumber dari cerita biografis yang ditulis jauh setelah peristiwa itu. Dalam kumpulan surat dan kartu pos Chairil Anwar kepada H.B. Jassin, terdapat kartu pos bertanggal 8 Maret 1944 yang menggunakan alamat: R.M. Djojosepoetro, Paron, Jawa Timur.
Chairil ketika itu menulis bahwa ia sedang berada dalam perjalanan di Jawa Timur. Nama R.M. Djojosepoetro penting karena sejumlah sumber mengidentifikasinya sebagai ayah Sumirat. Dengan demikian, Paron bukan sekadar tempat yang kemudian ditambahkan oleh penulis biografi ke dalam kisah cinta Chairil. Nama Paron muncul dalam korespondensi Chairil sendiri.
Bahkan, terdapat kartu pos lain kepada Jassin yang juga menggunakan alamat R.M. Djojosepoetro di Paron. Yang menarik, isi surat tersebut tidak melulu tentang cinta. Chairil justru sedang berbicara mengenai seni, kesusastraan, dan jalan hidupnya. Mungkin di sinilah kita bisa melihat Paron dari sudut yang berbeda. Paron bukan hanya tempat Chairil datang mengejar cinta. Paron muncul dalam arsip pada periode ketika Chairil sedang memikirkan siapa dirinya dan apa yang akan dilakukannya dengan hidupnya.
Ada pula sebuah kisah yang beredar dalam sumber-sumber biografis tentang kedatangan Chairil ke rumah keluarga Sumirat. Konon, ketika datang ke Paron, Chairil membawa koper. Tetapi isi koper itu tidak seperti yang mungkin diharapkan dari seorang pemuda yang hendak bertemu keluarga calon istrinya. Isinya terutama buku-buku dan sedikit pakaian.
Menurut kesaksian yang kemudian dikutip dalam tulisan-tulisan mengenai Chairil, ayah Sumirat mempertanyakan pekerjaan dan masa depannya. Chairil menjawab dengan cara yang khas: ia merasa dirinya bekerja setiap hari, bahkan setiap detik, meskipun pekerjaan itu bukan pekerjaan kantoran yang lazim.
Kisah tersebut harus kita baca sebagai kesaksian biografis, bukan sebagai transkrip percakapan yang dapat diverifikasi kata demi kata. Namun secara simbolis, kisah itu terasa sangat Chairil. Apa yang dibawa seorang penyair muda ketika mendatangi keluarga kekasihnya? Buku.
Bagi orang lain, buku mungkin hanya benda yang memenuhi koper. Bagi Chairil, buku adalah modal kehidupan. Masalahnya, buku tidak selalu bisa menjawab pertanyaan calon mertua: besok makan apa?
Cinta Chairil dan Mirat memang kandas. Tetapi nama perempuan dari Paron itu tidak sepenuhnya hilang dari kehidupan Chairil. Ia masuk ke dalam puisi. Chairil menulis “Dengan Mirat” pada 8 Januari 1946. Dalam beberapa penerbitan, puisi tersebut dikenal dengan judul “Orang Berdua”.
Kemudian ada “Mirat Muda, Chairil Muda”, sebuah puisi yang bahkan secara terang-terangan menyandingkan nama keduanya. Kita tidak perlu berspekulasi bahwa semua puisi cinta Chairil ditulis untuk Mirat. Tidak ada alasan untuk melakukan romantisasi berlebihan terhadap kehidupan penyair. Tetapi untuk beberapa karya tersebut, namanya jelas: Mirat.
Itu sudah cukup untuk menunjukkan bahwa perempuan dari Paron tersebut pernah menempati ruang tertentu dalam kehidupan dan imajinasi Chairil. Sebuah kota kecil di Ngawi dengan demikian masuk ke dalam biografi seorang penyair yang kemudian menjadi bagian dari sejarah nasional.
Sejarah sering membuat kita terjebak pada nama-nama besar dan tempat-tempat besar. Kita mengingat Jakarta sebagai pusat revolusi. Kita mengingat Yogyakarta sebagai kota perjuangan. Kita mengingat Bandung, Surabaya, Medan, dan berbagai tempat lain karena peristiwa nasional yang berlangsung di sana. Tetapi kehidupan seorang tokoh besar tidak selalu berlangsung di tempat yang kemudian masuk buku sejarah. Kadang-kadang ia berlangsung di sebuah rumah biasa di sebuah kota kecil. Begitu pula dengan Chairil Anwar.
Ada Chairil yang kita kenal dari buku pelajaran sebagai penyair Angkatan ’45, pemberontak bahasa, simbol kebebasan, dan pengarang “Aku”. Tetapi ada pula Chairil yang jauh lebih manusiawi. Seorang pemuda yang jatuh cinta. Seorang pemuda yang datang menemui keluarga kekasihnya. Seorang pemuda yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan harus berhadapan dengan kekhawatiran calon mertuanya. Seorang pemuda yang membawa buku-buku dalam kopernya. Dan seorang pemuda yang, beberapa tahun kemudian, namanya menjadi salah satu tiang utama kesusastraan Indonesia.
Barangkali justru Chairil yang kedua inilah yang lebih menarik. Sebab sejarah tidak hanya dibentuk oleh orang-orang yang sudah menjadi besar. Sejarah juga dibentuk oleh orang-orang ketika mereka belum menjadi apa-apa.
Bagi masyarakat Ngawi, kisah ini semestinya bukan sekadar cerita romantis. Ia merupakan bagian dari sejarah kebudayaan daerah. Nama Chairil Anwar memang milik kesusastraan Indonesia. Tetapi ada bagian dari perjalanan hidupnya yang pernah bersentuhan langsung dengan Paron.
Lebih dari itu, hubungan Chairil dengan Sumirat memperlihatkan bagaimana sejarah sastra nasional sesungguhnya bersinggungan dengan ruang-ruang lokal. Kita tidak tahu sebanyak apa yang masih tersisa dari keluarga Sumirat. Kita juga belum memiliki gambaran lengkap mengenai kehidupan Sumirat setelah hubungannya dengan Chairil berakhir. Jejak rumah keluarga R.M. Djojosepoetro di Paron pun masih menarik untuk ditelusuri.
Barangkali masih ada keluarga yang menyimpan cerita. Barangkali ada foto lama. Barangkali ada surat. Barangkali ada arsip yang terselip di antara dokumen keluarga. Atau mungkin semuanya sudah hilang ditelan zaman. Tetapi justru di situlah pekerjaan sejarah menjadi penting, yaitu mencari apa yang hampir terlupakan. Sebab sebuah kota tidak hanya menyimpan sejarah melalui monumen. Ia menyimpannya melalui rumah, keluarga, surat, foto, buku, dan cerita yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Paron mungkin tidak pernah menjadi bab tersendiri dalam sejarah sastra Indonesia. Namun seorang Chairil Anwar pernah berada di sana. Ia datang sebagai pemuda yang sedang jatuh cinta. Ia pulang tanpa perempuan yang dicintainya. Tetapi beberapa tahun kemudian, nama perempuan itu hidup di dalam puisi.
Dan mungkin, tanpa disadari Chairil, perjalanan singkatnya ke sebuah kota kecil di Ngawi telah meninggalkan sesuatu yang lebih panjang daripada kisah cintanya sendiri: sebuah jejak kecil dalam sejarah sastra Indonesia.
Ditulis oleh Wurianto Saksomo.
Belum ada komentar.