SUARA NGAWI - Ada lagu lama yang tiba-tiba terngiang di kepala saya ketika mengikuti kisah Suci, pekerja migran asal Tulungagung yang dari Taiwan berani mengkritik pejabat daerahnya lewat media sosial. Lagu itu Suci Dalam Debu—tembang lawas Iklim dari Malaysia yang dulu sering diputar di radio, dinyanyikan bersama di pos ronda, atau menjadi soundtrack Patah hati generasi tahun1990-an.
Umpannya sederhana, tetapi terasa sangat dalam: “engkau bagai air yang jernih, di dalam bekas yang berdebu.” Semakin saya memikirkan fenomena ini, semakin saya merasa nama Suci dan kisahnya seperti menemukan metafora yang pas dalam lagu itu.
Bagi saya, Suci adalah “air yang jernih” itu. Ia hanyalah warga biasa, seorang Pekerja Migran Indonesia yang bekerja jauh di Taiwan, tetapi kejernihan kepeduliannya terhadap kampung halaman terasa begitu nyata. Yang “berdebu” justru ruang publik kita: birokrasi yang kadang lambat, pejabat yang mungkin terlalu nyaman dengan zona-nya, dan budaya diam warga yang lama dibiarkan menumpuk seperti debu di atas meja.
Dalam lagu Iklim, debu tidak menghilangkan kejernihan udara. Debu hanya menutupinya, membuat orang lebih mudah melihat kotoran wadahnya daripada isi yang sebenarnya tetap bersih. Saya merasa itulah yang terjadi pada suara-suara warga biasa hari ini. Kritik sering kali lebih cepat diukur dari nada bicaranya—keras atau tidak, sopan atau tidak—dari pada inti masalah yang sedang diteriakkan. Padahal kalau kita mau sedikit jujur, suara seperti Suci lahir dari sesuatu yang sangat manusiawi, yakni rasa memiliki.
Saya membayangkan bagaimana seseorang yang tubuhnya berada ribuan kilometer dari Tulungagung masih menyisihkan perhatian untuk memikirkan jalan desa, pelayanan publik, dan perilaku pejabat di daerah asalnya. Ada cinta yang tidak romantis, tapi justru lebih tulus. Cinta pada kampung halaman membuat seseorang tidak tega melihat sesuatu yang berjalan seadanya.
Di sini, saya merasa bait lain lagu tersebut juga sangat relevan: “walau dipandang hina, namun hakikat cinta kita, kita yang rasa.” Bukankah kritik warga sering dipandang mengganggu, terlalu cerewet, bahkan dianggap tidak tahu persoalan? Namun yang merasakan langsung dampak jalan rusak, layanan lambat, atau pejabat yang kehilangan empati tetaplah warga sendiri. Mereka yang hidup di sana tahu letak lukanya.
Fenomena Suci mengingatkan saya bahwa demokrasi hari ini sering menemukan nyawanya justru dari tempat-tempat yang tidak terduga. Bukan dari ruang rapat berpendingin udara, melainkan dari video sederhana di layar ponsel. Dari seorang perempuan yang bekerja di negeri orang, namun hatinya masih menetap di kampung sendiri.
Yang menarik, lagu Suci Dalam Debu juga menyimpan harapan: “debu jadi permata, hina jadi mulia.” Saya membaca kalimat itu sebagai harapan bagi hubungan warga dan pemerintah. Kritik yang awalnya dianggap gaduh bisa berubah menjadi bahan evaluasi. Kegaduhan media sosial, jika dibaca dengan kepala dingin, bisa menjadi permata berupa koreksi yang jujur. Bahkan pejabat yang cukup rendah hati mungkin justru menemukan bahan pembenahan paling otentik dari suara yang lahir tanpa naskah dan tanpa protokoler.
Bagi saya, inilah pelajaran terpenting dari kisah Suci. Demokrasi bukan soal siapa yang punya jabatan untuk berbicara, tapi siapa yang masih punya kepedulian untuk bersuara. Dan mungkin benar seperti lagu itu: kejernihan sering kali tidak hilang, ia hanya tertutup debu. Tugas kita bukan memarahi airnya, melainkan membersihkan wadahnya agar jernih bisa kembali terlihat.
Dalam konteks Tulungagung, dan mungkin di banyak daerah lain, Suci hanyalah satu nama. Tetapi suara yang ia wakili jauh lebih besar: suara warga biasa yang tidak ingin kampung halamannya baik-baik saja hanya di atas laporan. Suara itu, bagi saya, adalah bentuk cinta yang paling jujur.
Saat ini, untuk kali kedua masyarakat Tulungagung menyaksikan lembaga antirasuah keamanan kepala daaerahnya. Publik seperti dipaksa melihat bahwa kegaduhan di media sosial terkadang bukan sekadar sensasi, melainkan gema dari persoalan tata kelola yang lebih dalam. Ia menunjukkan bahwa kritik warga tidak lahir di ruang hampa. Ada keresahan yang sebelumnya sudah beredar sebagai “debu” percakapan sehari-hari, lalu menemukan momentumnya ketika penegakan hukum bergerak.
Penulis: Wurianto Saksomo, alumnus S2 FH UGM dan S2 MAP UGM.
Belum ada komentar.