NGAWI - Ada sebuah keheningan yang sendu setiap kali petikan gitar akustik Ebiet G. Ade mulai mengalun. Bagi banyak orang di Indonesia, lagu “Titip Rindu Buat Ayah” bukan sekadar tembang lawas. Ia adalah “lagu kebangsaan” bagi mereka yang ingin memeluk sosok ayah namun terhalang jarak atau kekakuan kata-kata.
Jika kita bedah liriknya, Ebiet tidak sedang bercerita tentang pahlawan dengan jubah berkilau. Ia bercerita tentang pria biasa dengan “mata yang menyimpan selaksa peristiwa”.
Lagu ini adalah potret paling jujur tentang cinta ayah yang sunyi. Seorang ayah sering kali tidak pandai merangkai kalimat. Cintanya justru diterjemahkan melalui keletihan yang ia bawa setiap pulang kerja.
Lewat lirik “bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari”, kita diajak menyadari bahwa bagi seorang ayah, bekerja keras bukanlah sekadar kewajiban, melainkan ibadah cinta untuk memastikan anak-anaknya memiliki masa depan yang lebih cerah dari masa lalunya.
Jika Ebiet memotret ayah lewat keletihan fisik, Andrea Hirata dalam novelnya yang berjudul “Ayah” menyuguhkan perspektif yang sangat unik dan puitis lewat tokoh Sabari. Sabari bukanlah ayah dalam pengertian biologis, namun cintanya kepada Zorro, anak yang ia rawat dengan sepenuh jiwa, merupakan bukti bahwa menjadi ayah adalah sebuah keputusan besar.
Sabari adalah gambaran bahwa cinta seorang ayah bisa sangat ekspresif, meski tetap sederhana. Ia menulis puisi, ia menunggu dengan setia, dan ia memberikan dunianya hanya agar sang anak merasa dicintai. Andrea Hirata melalui novel ini seolah ingin berbisik kepada kita bahwa ayah adalah siapa saja yang bersedia menjadi tempat pulang bagi seorang anak.
Tokoh Sabari mengajarkan kita bahwa ketulusan seorang ayah tidak diukur dari garis keturunan, melainkan dari seberapa besar ruang yang ia sediakan di hatinya untuk kebahagiaan sang buah hati.
Berbicara tentang ketulusan yang menguras air mata, kita tentu tidak bisa melupakan film Korea “Miracle in Cell No. 7”. Tokoh Lee Yong-gu, divonis hukuman mati atas perbuatan yang tidak pernah ia lakukan. Ia seorang ayah dengan disabilitas intelektual. Ia menunjukkan bahwa keterbatasan logika tidak akan pernah bisa membatasi besarnya cinta. Bagi Yong-gu, dunianya hanya berputar pada satu titik, yaitu Ye-seung, putrinya.
Film ini diakhiri dengan latar waktu bertahun-tahun kemudian, ketika Ye-seung telah tumbuh dewasa dan menjadi seorang pengacara. Ia mengadakan sidang peninjauan kembali untuk membersihkan nama ayahnya dan memberikan keadilan yang selama ini terampas, membuktikan kepada dunia bahwa ayahnya adalah pria suci yang tidak bersalah.
Film ini adalah kritik tajam terhadap sistem hukum dan prasangka sosial terhadap kaum disabilitas. Namun di atas itu semua, Miracle in Cell No. 7 adalah surat cinta tentang pengorbanan tanpa batas seorang ayah yang, meski tidak memiliki kecerdasan tinggi, memiliki hati yang jauh lebih luas daripada siapa pun.
Ketulusan cinta yang kita temukan dalam lagu Ebiet, novel Andrea Hirata, maupun kisah Yong-gu, kini menemukan bentuk nyata di Indonesia. Selama ini, ada stigma bahwa urusan sekolah anak adalah wilayah ibu. Ayah dianggap cukup sebagai penyokong dana dari balik layar. Namun, perlahan tapi pasti, tembok itu mulai runtuh.
Gerakan “Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah” yang sempat populer adalah langkah awal yang baik. Bagi seorang anak, merasakan ayah menggandeng tangannya menuju gerbang sekolah adalah bentuk validasi luar biasa. Kehadiran fisik ayah memberikan rasa aman dan kepercayaan diri. Itu adalah momen di mana “Titip Rindu Buat Ayah” tidak lagi hanya menjadi lagu yang dinyanyikan saat jauh, tapi menjadi kenangan manis tentang kehadiran yang nyata.
Tren ini pun kini berevolusi menjadi fenomena viral “Gerakan Ayah Mengambil Rapor”. Media sosial kita dipenuhi dengan video-video mengharukan. Tentang para ayah yang mengenakan jaket ojol, seragam kerja, atau pakaian sederhana menunggu di bangku kayu kecil yang sehari-hari diduduki anaknya di dalam kelas.
Menunggu giliran dipanggil guru untuk menerima rapor dan mendengarkan perkembangan anak saat bersekolah.
Pada akhirnya, cinta ayah yang tulus adalah kombinasi dari keletihan fisik yang digambarkan Ebiet G. Ade, keteguhan hati Sabari dalam novel Andrea Hirata, dan pengorbanan suci Lee Yong-gu dalam sinema.
Kita tidak perlu menunggu dunia runtuh atau terjebak dalam sel penjara untuk menunjukkan cinta. Cukuplah dengan hadir di momen-momen kecil namun bermakna dalam hidup anak.
Melalui gerakan mengambil rapor, para ayah di Indonesia sedang menulis ulang sejarah. Mereka sedang membuktikan bahwa menjadi ayah yang hebat bukan hanya soal seberapa banyak uang yang dibawa pulang, tapi seberapa sering mereka hadir sebagai sahabat, pelindung, dan pendengar bagi anaknya.
Mari kita pastikan bahwa rindu yang tertitip dalam lagu Ebiet G. Ade adalah rindu yang hangat karena kenangan akan kehadiran, bukan rindu yang pahit karena penyesalan akan ketidakhadiran.
Sebab, bagi seorang anak, pahlawan sejati bukanlah dia yang terbang di angkasa, melainkan dia yang menggandeng tangan mereka saat hari pertama sekolah dan duduk bangga saat melihat nama mereka di lembar rapor.
Ditulis oleh Wurianto Saksomo, alumnus S1 FH UGM dan S2 MAP UGM
Belum ada komentar.